Beralih ke mode gelap.

Beralih ke mode terang.

Beralih ke mode gelap.

Beralih ke mode terang.

in

Tak ingin merepotkan anak, kakek penyandang disabilitas terjun jadi pemulung

Tidak semua Negara memiliki fasilitas yang memadai untuk orang-orang penyandang disabilitas, mereka bukanlah individu tanpa daya dan upaya. Beberapa kemampuan mereka juga patut untuk kita apresiasi, antara lain menjadi seorang penjahit, pelukis, bahkan juara di berbagai bidang dalam olahraga.

Rosyid adalah salah satu diantara mereka. Penyandang disabilitas asal Cilacap berusia 71 tahun ini begitu tegar menjalani kerasnya hidup. Pria sepuh berperawakan kurus menjalani hari-harinya dengan semangat, meski hanya berprofesi sebagai pemulung.

Setiap hari, Rosyid mengayuh sepeda khususnya berkilo-kilo meter di daerah Suruh, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo untuk mengunjungungi, bak sampah atau lahan-lahan tempat membuang barang bekas.

Seperti tidak ada kata yang tepat untuk memuji sekaligus menggambarkan ketangguhan pria kelahiran 17 April 1946 ini. Tak jarang, perjalanan Rosyid mengundang haru setiap orang yang melihatnya.

Akibat sakit yang dideritanya sewaktu kecil, salah satu kakinya tidak bisa berfungsi dan mengalam kelumpuhan, sehingga menyulitkan ia untuk berjalan normal dan melakoni pekerjaannya dengan menggunakan sepedanya.

“Mungkin sudah nasib Tuhan seperti ini, saya diberikan sakit yang mana pada waktu itu saya dibawa ke kota Majenang lalu disuntik dan setelah 3 hari sakit itu tak kunjung sembuh, dan pada akhirnya membuat kaki saya yang sebelah kiri setengah mati tapi tetap hidup,” kata Rosyid, Minggu (21/05/2017).

Untuk melakukan aktifitasnya menjadi pemulung, Rosyid bermodal uang Rp1 juta. Uang itu ia pakai untuk merakit sepeda yang ia rancang sendiri, yaitu 2 buah roda belakang, 1 roda bagian depan yang dikayuh menggunakan tangan.

Sebagai seorang pemulung biasanya Rosyid mulai mengayuh sepedanya pada waktu selesai sholat subuh dan pulang pada waktu menjelang dzuhur. Selama bekerja Rosyid menerima perlakuan sangat baik dari masyarakat, bahkan masyarakat sekitar sangat membantu Rosyid seperti memberikan kardus maupun botol bekas kepada Rosyid secara cuma-cuma.

Baca Juga: Pakai CloudX Telkomsel, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember optimal kuliah dari rumah
Rosyid adalah gambaran lelaki luar biasa meski satu kakinya lumpuh, selain menjadi pemulung, ia juga mampu menjahit baju, celana, dan lain-lain.

Ia tak pernah mengeluh, meski seharian ia harus berkeliling ke Sukodono untuk mencari barang bekas. “Saya tidak mau merepotkan anak saya disini. Tuntutan ekonomi membuat saya harus bekerja karena saya tidak mau merepotkan anak-anak saya,” ucap Roshid siang itu.

Halaman: 1 2

Rekomendasi

Suami di PHK, Mau Mudik Ditolak Istri dan Warga karena Takut Tertular

Paling Cepat H-10 Lebaran, THR Tahun ini Hanya Berupa Gaji Pokok dan….

Back to Top